Senja Dalam Jiwa

Sebagian perasaanku hancur, lagi-lagi dia yang kau pilih menjadi tempat tinggal. Bukan aku!

Entah, apa kurangku dihadapanmu. Sampai sekalipun kau tak pernah melirik meski sebentar.

Aku tau, aku tak pernah mampu berpaling daripadamu. Walau kenyataan tak sebahagia yang aku harapkan.

Ya, itu dulu. Aku dulu pernah merasakan perasaan itu. Perasaan hancur, perasaan kecewa, perasaan sia-sia, bahkan bodoh pun aku merasa begitu.

Cemoohan mereka tentangku yang kian merambah menusuk kalbu. Sudah biasa ku dengar. Aku bodoh, aku yang lemah, atau terlalu sabar menunggu.

Setiap harinya hanya harapan kosong yang ku terima. Seringnya kita bersama membuatku terpaku pada satu kenyataan besar. Aku sayang, hanya kepadamu. Mulanya terkesan biasa saja, aku berusaha menutupi kenyataan itu. Walau nyatanya, kau mengetahuinya. Bukan jarak yang ku harapkan, mendapatimu menjauh itu menyakitkan. Secara aku tak lagi dapat dekat, atau sekedar melihat senyum tulus yang biasa kau berikan untukku. Apalagi saat bunga-bunga di hatimu tumbuh, mengingatku saja kau tak sempat. Sejak kau tau kenyataan apa yang aku alami, kau seakan memberi sinyal agar aku pergi sejauh mungkin dari peredaran matamu. Yang dapat ku lakukan hanya menerima.

Kemudian, kau datang kembali. Lagi-lagi aku bodoh. Ku kira kau sadar bahwa keputusanmu sebelumnya merupakan sebuah kesalahan. Namun, bukan itu. Kau datang saat sedang jatuhnya. Lalu, saat kau bangkit kembali, lagi .. aku kau hempaskan. Seharusnya aku sadar, bahwa kau hanya menjadikan aku pelarian saat tak ada lagi yang mampu membuatmu tertawa. Hanya itu. Iya, hanya itu.

Hingga akhirnya, aku berusaha menguatkan diri bahwa menjatuhkan pilihan untuk mencintaimu bukanlah kesalahan, hanya saja Tuhan sedang mengujiku, sampai dimana aku dapat bersabar menunggu hatimu terbuka lebar hanya untukku. Kepada Tuhanlah aku mengadu, tentangmu yang tak peduli apapun tentangku. Semua menganggap apa yang ku lakukan hanya buang-buang waktu. Tapi, keyakinan padanya yang membuatku tetap bertahan meski menyakitkan. Meski harus memberi ruang terluka berulang kali.

Menunggumu dalam sujud di sepertiga malamku setiap hari bukanlah sia-sia. Menyebut namamu dalam sepanjang doa bukanlah sebuah beban yang berat. Aku hanya yakin, jika kamu merupakan seseorang yang tepat ku pilih dalam penantian panjang.

Dan, sampai pada ujungnya. Pada waktu yang ditetapkan Tuhan. Kau bukan lagi imajinasi harapan. Kau bukan saja impian. Kau bukan pula angan. Namun, sebuah anugerah Tuhan yang terwujudkan. Kau tak lagi mengadakan jarak, justru meniadakannya. Yang kini kau ciptakan hanya warna-warni yang sempat ku anggap hanya sekelebat goresan tinta hidup. Yang kau lakukan kini hanyalah semata membuatku mensyukuri bahwa yang selama ini ku lakukan adalah benar, tentang percakapan ku dengan Tuhan setiap harinya, tentang sabar yang ku yakini akan mengalahkan segala keraguan, tentang kepercayaan terhadap takdir Tuhan jika kau bukan kesalahan untuk dinantikan.

Sejak waktu itu, aku semakin dekat dengan Tuhan. Hanya dengan itu, caraku bersyukur. Hingga saat yang membuatku bahagia pun tiba, kau menggenggam jemari tanganku sembari mengatakan, “Sejauh apapun aku pergi, selama apapun aku menjauh, sejahat bagaimanapun aku padamu. Akhirnya, hanya kepadamu tempatku pulang kembali. Karena aku tau, kamu lah persinggahan terakhir dimana saat aku pulang ketenangan yang aku dapatkan”.


Kau senja dalam jiwa. Sebab denganmu suasana apapun akan kembali teduh dan utuh. :)


Thanks twin, inspirasi terbaik sekaligus motivasi. Sabar itu ga akan ada batasnya. Dan hasil yang dituai tak pernah mengecewakan :D

Komentar

Posting Komentar