Tentang Rani

'Rindu itu menyempitkan ruang hati, saat hanya berujung menjadi sebuah mimpi'.

Hari itu hujan turun dengan lebatnya, menyisakan genangan air yang pasang. Membuat mahluk hidup enggan berjalan. Tak sedikit dari mereka memilih meringkuk dalam hangatnya pergumulan alam bawah sadar.
Rani, wanita manis yang kini hanya menatap tetesan langit melaju menuju permukaan bumi. Matanya sayu, tubuhnya bergetar. Menggenggam jemari tangannya, menopangkan dahu pada kedua lutut yang sedari tadi menghangat diantara debaran dada.

"Maaf, aku hanya merindukanmu. Tak bermaksud lebih". Rani menggumam. Masih jelas dalam pelupuk matanya kejadian beberapa hari yang lalu. 


"Aku bisa apa? Jika yang terjadi demikian". Lagi lagi air matanya tak dapat dibendung. 
Wanita memang tak selamanya memiliki kepekaan, dan tak selamanya menuntut untuk dimengerti.


---

"Harusnya kamu tau Ran. Ga segampang itu."

"Tapi aku percaya!"


"Bodoh Ran. Kamu itu bodoh. Ngerti?"


"Terserah lah. Intinya aku tetap pada pendirianku."


Pembicaraan itu merupakan yang terakhir kalinya bagi mereka berdua. Berakhir dengan kekecewaan masing-masing. Tanpa ada solusi untuk dipecahkan.

---

Sebelumnya.

"Sayang, maaf ya aku ga bisa jemput kamu nih."


"Kenapa Jun?"


"Kalau ketemu aku jelasin. Kamu bisa kan pulang sendiri?"


"Iya Jun. Hati-hati di jalan."


"Miss you sayang."


- Call Ended -


'Tumben sih Juna ga ngasih alasan, dadakan banget lagi ngasih taunya.' Rani hanya berasumsi dengan kesal. Tanpa berpikir lebih jauh tentang apa yang terjadi. 
Ia akhirnya memilih pulang sendiri, menumpang taxi yang seharusnya ia pesan dari tadi jika mengetahui kekasihnya itu tak dapat diharapkan.


---

Di sisi lain. 


"Junaaaaa.. Kamu jemput aku? Kirain becanda Jun."


"Zy, kamu katanya takut, digangguin cowok-cowok? Tapi.. Kok malah girang gini sih?"


"Ish, Jun. Aku becanda tau. Cuma pengen kamu jemput. Habisnya kamu selalu ga bisa jemput aku."


"Faaakk!!! Bisa-bisanya kamu becanda malem-malem kaya gini!"


"Kenapa sih Jun? Rani? Minta dijemput? Manja banget sih apa-apa kamu terus. Ga bisa pulang sendiri?"


"Apa bedanya sama kamu Zy? Sama kan? Kamu selalu cari alasan buat misahin aku sama Rani."


"Misahin? Maksudmu misahin yang bagaimana Jun? Seperti apa?"


"Masuk mobil Zy!"


"Jun.."


"Kamu ga denger? Ini uda malem banget."


Juna menyesali, percaya dengan Ezy hanya membuat waktu terasa sia-sia. Khawatir dengan Rani. Membohongi Rani. Memilih dengan wanita yang diakui sahabatnya, tapi pembual.

---

Keesokan harinya, Juna masih saja diam. Tak mengerti keputusan apa yang harus ia ambil. 
Pukul 08.00, biasanya ia sudah menghubungi Rani. Memberinya kabar bahwa ia sudah bangun.

Tapi, kali ini itu tak terjadi. Ia justru memilih menghubungi Ezy, sahabatnya.

Hari ini mata kuliah Ekonomi telah berakhir.
Seperti biasanya,Rani melangkahkan kaki menuju ruang kelas Davin. Mengajaknya makan siang di kantin. Alasannya karena Juna tak terlihat ada. Mau tak mau Davin peraduan terakhir, siapa tau ada traktiran untuknya. 

"Vin! Kantin yuk.."


"Elo Ran."


"Iya lah, masa setan?"


"Emang setan."


"Ah kampret lo."


"Apaan ngajak-ngajak gue? Ajak aja sono pangeran lo yang katanya setia itu."


"Emang setia kan. Maksudmu apa?".


"Hahaha. Kebanyakan makan percaya sih lo. Makan ati tau rasa."


"Apaan sih Vin. Ayo ah ngantin."


"Uda dari tadi keles Ran. Elo telat. Gue uda bubaran kelas dari jam satu. Uda ngantin."


"Yauda gue ngantin sendiri deh."


"Yakin ngantin? Ntar nangis."


"Lo ngomong ngelantur apa gimana siang bolong kaya gini? Ga jelas."


Sedetik, Rani sudah hilang dari pandangan Davin setelah mengucapkan hal itu. Rani sebenarnya menerka-nerka leluconkah ucapan Davin barusan, atau ada sesuatu di kantin. Sedangkan Davin hanya menatap Rani getir dari kejauhan, berharap nanti pundaknya akan tepat menjadi sandaran di kala Rani menangis.

---

Di Kantin.

"Hahahaha, masa sih Jun? Terus terus gimana? Keren kan? Ish makanya nurut aku filmnya emang alurnya bikin penasaran. Ga bisa ditebak."


"Iya, sumpah aku kaget banget pas itu pocong tiba-tiba nongol. Hahaha.."

'Juna. Ezy. Berdua? Di kantin? Film? Tumben? Tapi Juna tadi ga di kelas. Ga ngabarin aku seharian. Tevonku ga diangkat. Apa-apaan?'. Rani memendam perasaan marah. Juna berubah dalam waktu sehari. Sejak semalam tak dapat menjemputnya. 
'

Sahabat bagi Juna. Tapi ga biasanya. Ini aneh. Juna ga ngomong apa-apa.'
Rani bergegas pergi. Memendam amarah serta kecewa. Memilih keputusan begitu saja. Meninggalkan luka dan kenangan di sana.


---

"Rani, Mama ga habis pikir loh sama keputusan kamu. Kamu yakin mau kuliah di Surabaya? Masih ada sisa setahun lagi sayang. Transfer kan agak susah. Berkas-berkas juga ga bisa cepat diurus."


"Mama ih, Rani itu keterima kerja disana. Mau ga mau dong Ma. Ayolah Ma. Please.."


"Mama tau kamu pengen banget kerja di Surabaya dekat sama Oma. Tapi bisa kan nunggu sekalian lulus nak? Setahun lagi."


"Mama, ayolah yang kuliah Rani. Terakhir dua semester itu Rani sendiri deh yang biayain. Ya Ma? Rani ga mau ngerepotin Mama terus."


"Coba dipikir lagi sayang."


"Mamaa.."


"Yasudah. Kamu beberes deh sekarang. Mama nanti sama kakakmu urus keperluan berkas transfer ke kampus yang baru. Tapi janji ya sering nengokin Mama."


"Iya Ma."

Rani akhirnya memilih meninggalkan Bandung dengan sejuta luka. Tanpa pikir panjang, tanpa meredam emosi, dan tanpa pamit pada siapapun teman di kampusnya. Diam-diam ia pergi.

---

Sudah cukup lama Juna mendiamkan Rani, berharap Rani mencarinya. Berharap Rani menemuinya. Berharap Rani memiliki inisiatif untuk mencari tau tentang apa yang ia lakukan. Setidaknya berusaha khawatir. 


"Udah deh Jun, kerumah Rani aja. Ezy temenin ya? Maafin Ezy bikin kamu ngetest Rani kaya gini. Lagian kenapa Juna diem tau Rani uda seminggu ga masuk? Ga mungkin ngambek dong selama ini. Rani kan rajin."


"Udah tanya Davin ga dijawab juga. Katanya gatau kemana Rani. Aku nanya udah kerumahnya belum, eh malah disuruh kesana sendiri."


"Terus?"


"Aku coba telpon aja ya Zy? Aku capek juga ga pernah kaya gini. Tiap hari mendam kangen tapi ya seperti yang kamu bilang. Kalau Rani sayang pasti nyariin aku."


---

'Tak seperti itu caranya berkomplot dengan perasaan yang benar. Kemudian berujung palsu.'


"Vin, ga aktif sih nomernya Rani. Lo ada nomer lain ga sih?"


"Gatau!"


"Vin, elo ngapa sih sama gue?"


"Goblok! Elo mau telpon sampe hape lo kesamber petir juga ga guna! Samperin kerumahnya."


"Elo tau apa? Ngomong!"


"Shit! Minggir lo. Jijik gue liat muke lo."


"Maksud lo apaan? Lo ga bener tau-tau marah sama gue."


"Tanya sama hati lo! Pecundang!"


"Heeehh!  Davin!"


'Yaampun ada apa sama Rani? Apa aku uda keterlaluan kaya gini? Ini bukan kemauan aku.'


Juna segera menyapukan langkahnya menuju parkiran mobil, menstater dan melaju ke arah rumah Rani.

---

Di Surabaya. 


Cuaca sedang dalam keadaan tak bersahabat, tiap sore awan hitam menghalangi terang terik matahari. Menyuruh hujan segera membasahi bumi. 


"Maaf, aku hanya merindukanmu. Tak bermaksud lebih". Rani menggumam. Masih jelas dalam pelupuk matanya kejadian beberapa hari yang lalu. 


"Aku bisa apa? Jika yang terjadi demikian". Lagi lagi air matanya tak dapat dibendung.

---

Bandung, Rumah Rani. 


"Tapi tante, Rani ga pamit apa-apa sama Juna."


"Yang benar nak? Rani bilang sama tante sudah pamit dan Juna mengijinkan untuk berhubungan jarak jauh."


"Sumpah tante, Rani ga pamit apa-apa. Nomernya juga ga aktif."


"Nomor Hpnya memang ganti sudah seminggu ini. Katanya hilang Hpnya Rani. Tante kira Juna sebagai pacarnya tau. Apalagi tante heran, kok Juna ga antar Rani ke Stasiun."


"Maafin Juna tante, Juna salah."


"Ada masalah apa sama Rani sebelumnya? Apa Rani minta pindah karena Juna? Ada apa?"


"Tante biar Juna hubungi Rani."


"Yasudah, ini nomornya Rani." Mama Rani memberikan handphonenya kepada Juna, sembari menunjukkan nomor Rani yang dapat dihubungi.

---

Rani beranjak dari posisinya, menuju tempat dimana handphonenya singgah. Ia menatap layar panggil yang sedari tadi berdering. 'Juna'.


Rani membiarkannya. Ada rasa sesak di dadanya. Bercampur dengan rindu yang menyeruak berharap dihamburkan. 


'Kenapa baru sekarang? Putuskah yang akan terucap dari pengakuanmu Jun?'

---

Sejam yang lalu Davin menunggu Juna di Jack Mack Resto. Setengah dari gelas Cappuccino Espressonya sudah mendingin.


"Sorry Vin. Gue ada urusan sama Ezy. Tapi kelar kok semuanya. Gue mutusin ngejar Rani. Gue sayang Rani, Vin."


"Baguslah. Gantiin Cappuccino gue. Sekalian Nacos satu dong. Laper men nungguin elo."


"Oke. Gue ke depan dulu."


"Hmm. Cepetan."

---

'Ada sebuah rasa yang tak selamanya harus dipahami. Menuntut pun tak ada gunanya.'


"Seharusnya aku lebih berhati-hati. Seharusnya aku bersikap dewasa. Mengharapkan keadaan seperti semula juga percuma. Aku cuma pengen kamu ngertiin aku. Perasaan aku. Aku ga nuntut lebih. Tapi, entahlah siapa yang salah. Aku atau kamu?" , Ezy terisak. Kekecewaannya meluap. Bimbang dengan apa yang telah terjadi. 


Pertama, ia dengan Juna bersahabat sejak kelas satu SMA. Seiring berjalannya waktu, ia tak hanya mengagumi Juna sebagai sahabatnya. Namun, hatinya menaruh lebih atas perasaan yang selama ini ia miliki. 


Kedua, dulu sebelum Rani hadir. Juna tak pernah membagi waktunya kepada siapapun selain Ezy. Di hidup Juna, Ezy lah prioritas. Dan hal itu membuat Ezy semakin terbang tinggi membawa perasaannya. Tapi, kehadiran Rani membuat jarak di antara mereka berdua. 


Ketiga, Ezy hanya mengharapkan Juna tak berubah meski Rani tengah ada di antara kedekatan mereka. Setidaknya, Rani dapat menerima Ezy. Namun, kenyataannya Rani maupun Ezy sama-sama cemburu ketika dipertemukan. Hingga akhirnya Juna lebih memprioritaskan Rani dibanding sahabatnya. Perlahan tapi pasti, Ezy maupun Juna merenggang.

"Kamu dewasa bisa Zy? Aku sebenarnya ga pengen kaya gini. Tapi kamu sama Rani itu jauh. Ga bisa disatuin, apalagi kalau bareng. Aku juga salah uda jauh sama kamu. Aku salah karena ga bisa adil. Aku juga salah karena ga bisa tegasin perasaan kamu. Aku paham Zy. Posisi mu atau posisi ku sama-sama sulit. Kalau kita di pihak Rani, pasti juga sulit."


"Aku cuma pengen kamu ga berubah walaupun udah sama Rani. Aku pengen kita bareng-bareng lagi."


"Tapi, perasaan mu yang salah itu yang bikin kita ngejauh dengan sendirinya. Aku sayang Rani, Zy. Aku menempatkan kalian di posisi yang berbeda sesuai porsinya. Plis, kamu bisa cari yang lebih baik dari aku. Aku janji bakal perbaiki hubungan kita setelah aku sama Rani balik. Aku belum putus sama Rani."


"Jun, aku sayang sama kamu."


"I know, sebagai sahabat."

'Apa aku salah Jun, sayang sama kamu? Aku belum terbiasa menerima Rani di antara kita. Belum bisa menghadapi kenyataan aku ini egois. Aku salah Jun. Maaf.'
Ezy menangis tak terhenti. Hatinya pilu. Selama ini yang ia harapkan hanya Juna. Bukan yang lain.


---

"Terus Rani bilang apa sama lo, Vin?"


"Ya, elo ga ngehargain dia sebagai cewek lo. Lo malah prioritasin Ezy. Rani ga pernah ngelarang elo buat bagi waktu sama Ezy, asal lo sharing. Buat apa sih test perasaan Rani segala kalau lo udah tau jawabannya. Menurut gue lo ga bisa 100% percaya sama sahabat atau siapapun bahkan Rani sekalipun. Gue paham posisi lo. Tapi lo bakalan nyesel kehilangan Rani. Lo paham maksud gue kan?"


"Paham Vin. Gue salah. Iya sepenuhnya gue yang salah. Gue ga paham kemauan Ezy sama Rani."


"Gue uda coba bilang sama Rani buat ga gegabah ambil keputusan ninggalin elo dengan pergi ke Surabaya. Gue uda bilang dia bodoh, masih aja dia percaya elo mainin perasaannya."


"Bantu gue Vin. Lusa hari sabtu. Gue mau ke Surabaya nemuin Rani. Rencananya minta tolong tante Dessy. Bisa?"


"Gue ga egois kok. Oke aja. Cuman ini kesempatan terakhir lo pas gue niat."


"Thanks banget Vin."


---

Minggu. Hari yang ditunggu-tunggu semua orang untuk melepaskan penat dari aktifitas yang menguras pikiran dan tenaga. Merileksasikan jiwa dengan menyatu bersama alam.
Hari ini Rani mengenakan inner hitam dipadu outer rajut pinky favoritnya. Tak lupa skirt pink polka mempercantik jenjang kaki mulusnya.
Rani berniat mengunjungi taman yang fenomenal di Surabaya, biasanya minggu pagi warga Surabaya meluangkan waktu untuk car free day di sana.



06.10
Ran, dimana? 


06.17
Sorry, habis dandan Vin. Mau ke Taman Bungkul. Cfd. Ngaps?


06.19
Taman Bungkul , dimana?


06.20
Gmaps lah. Emg lo di Sby? Kok nanya²? 


06.22
Kaga. Hahaha. Jamber?


06.23
Shit. Ini otw. Kangen?


06.25
Hahaha, ngimpi. Yodah. Tiati. :D


06.27
Resek. Oke. Bye. >.<


---

"Rani."


Seseorang memanggilnya dari jarak terdekat. Persis di sampingnya.
Rani tak berkedip. Ia seperti sedang berada dalam genggaman raksasa.


Jam menunjukkan pukul 07.12 WIB. Rani baru saja menyeruput Chocolate Ice yang sudah ia beli.


"Hei. Kaget ya?"
Rani bergegas menghindar, tapi pergelangan tangannya sudah diraih dengan sigap.


"Lepasin!"


"Kita ngobrol baik-baik ya. Aku mohon. Aku udah jauh-jauh kesini buat nemuin kamu. Nyelesaikan hubungan kita."


'Jadi, Juna kesini mau mutusin aku? Buat apa jauh-jauh kesini. Tega Jun.' Rani tak percaya. Cintanya berakhir hanya karena Juna memilih Ezy. 


"Yuk, ke mobil Rani aja atau ke mobil aku?"


"Mobilku!"


Mereka berdua lantas segera pergi menuju mobil Rani yang terparkir tak jauh dari mereka berdiri tadi. 


---

"Ngapain jauh-jauh kesini kalau mau mutusin aku? Ngapain? Kamu bisa sms atau chat aku."


"Siapa yang mau mutusin?"


"Kamu!"


"Engga sayang, aku cuma pengen masalah kita selesai. Kamu terburu-buru pergi dan aku ngaku aku salah. Iya aku salah."
Rani menangis. Meski ia mencoba tegar, berusaha mendengar penjelasan Juna. 


"Ga seharusnya aku ngelakuin itu. Dan ga seharusnya kamu pakai pindah kampus kaya gini."


"..............."


"Dengerin aku sayang. Malam itu Ezy telpon aku, minta jemput karena diganggu sama laki-laki. Aku khawatir sebagai sahabatnya. Aku juga khawatir kamu pulang sendirian. Tapi aku mikir kalau Ezy dalam keadaan bahaya. Ternyata dia ngerjain aku. Maaf. Terus aku.."


"Terus kenapa kamu ga ngasih tau aku, ngilang gitu aja? Tiba-tiba asyik sama Ezy di kantin? Kamu pikir aku gatau kalau kalian habis nonton? Seneng ya? Hah? Seneng? Mikir dong gimana perasaan ku!!!"


"Sebentar. Aku nonton ga sama Ezy. Dia kasih via bluetooth filmnya. Aku nonton di rumah. Iya aku salah. Ezy itu ngerasa udah jauh banget sama aku sejak ada kamu. Aku ga nyalahin kamu sayang. Engga. Tapi Ezy ngerasa aku berubah banyak sejak sama kamu. Makanya aku luangin waktu buat dia. Dia besoknya ngasih ide buat ngetest perasaan kamu ke aku kaya gimana. Aku salah. Maafin aku."


"Haha! Gila. Mikir pakai otak Jun. Kamu pikir apaan pakai test segala? Kamu kira ga cukup hah hubungan kita dua tahun? Ga cukup? Kurang bukti apa lagi? Kamu mau aku kaya gimana? Ngemis-ngemis karena ga di kabarin pacarnya? Iya? Harga diri Jun. Kalau kamu sayang ngapain kaya gitu? Ngapain? Buat apa? Ngetest kalau di awal pacaran. Kita udah dua tahun. Aku uda bilang kan sama kamu Ezy itu cemburu sama aku!"
Rani tak sanggup memendam apa yang ia rasakan selama ini. Hubungan yang dihantui sahabat Juna yang tak pernah bisa menerima kehadirannya. Hubungan yang menghawatirkan jika sahabatnya muncul membawa perasaan lebih pada Juna. Membuatnya cemburu. Membuatnya takut kehilangan. 


"Maafin aku sayang. Maaf. Aku harus gimana buat nebus kesalahan aku?" , Mata Juna berair, pelupuk matanya penuh dengan butiran yang segera mengalir. Ia menyesal. 


"Ga ada yang perlu ditebus. Aku sayang kamu juga ga ngarepin apa-apa. Mau bertahan oke. Berakhir aku ikhlas."


"Ran, kita ga akan pernah berakhir. Aku sayang sama kamu. Aku mau kita sama-sama lagi."


"Aku ke Surabaya bukan hanya karena kamu. Tapi memang aku keterima kerja disini. Aku ga mau ngerepotin Mama. Aku pengen mandiri."


"Kamu marah? Atau gimana sama aku?"


"Engga Jun. Setidaknya kamu berjuang nemuin aku itu udah jawaban yang cukup. Ga selamanya aku harus bisa buat kamu ngerti apa mauku. Aku emang ga peka sama Ezy. Karena aku ga di posisi dia. Kalau aku nengok Mama aku bakalan ngomong baik-baik sama Ezy. Maafin aku ya Jun."


"Aku sayang kamu Ran. Jangan jauh-jauh lagi ya."


"Kamu sama Davin sekongkolan ya? Ih jahat!"


"Eh sakit ah. Jangan cubit di perut. Disayang aja dong. Hahaha.."


"Maunyaaa ewh."

Komentar