Merajuk Rindu Melalui Penciptanya
Ketika rindu tak mampu terucap kepadanya ..
Umat manusia pasti pernah atau bahkan selalu merasakan rindu. Entah rindu pada siapapun.
Tak terkecuali pada yang terkasih.
Rindu itu semacam duri mawar merah yang saat kau tak berhati-hati, maka jari mu akan terluka.
Rindu merupakan perasaan yang sama sekali tak mampu untuk ditahan kepergiannya. Jika memaksakan untuk pergi tinggallah luka yang menancap di hati.
Seperti aku, yang merasakan rindu menggebu. Dengan secepat kilat frekuensi hati menjadi gelombang-gelombang yang memiliki getaran melebihi batas normal. Dan penetralannya hanya satu, yaitu pertemuan.
Namun, tak semua rindu dapat tercapai klimaksnya. Tak semua rindu dapat selesai dengan hitungan detik. Terkadang suara maupun kenangan tak mampu meluruhkan perasaan itu. Terkadang menangis tak selalu menjadi pelega jiwa yang meradang.
Pernah suatu ketika rindu datang tanpa permisi. Tiba-tiba menyeruak bergabung dengan rasa sayang yang telah lama hadir. Melirik kekosongan hati, kemudian menetap dengan alasan yang tak pernah dapat dimengerti.
Sempat aku menanyakan padanya, mengapa tetap tinggal disini. Tapi ia tak pernah mau mengakui maksud kehadirannya. Ia hanya sekedar singgah, sampai tujuannya dapat digapai dengan pasti.
Aku hanya ingin ia memahami, bahwa ketika ia berkunjung haruslah permisi. Lagi lagi ia meremehkan aku. Seakan mengajakku bertanding untuk melawannya.
Bagaimana mampu mengalahkannya, aku sendiri tak pernah tau mengapa ia datang diantara perasaan-perasaan yang ada.
Ku tanyakan pada mereka, bagaimana caranya agar ia segera pergi. Sebab aku sudah lelah menampungnya untuk lebih lama tinggal.
Tangisku pecah, setiap ia menunjukkan sorot hadirnya disana. Seakan aku harus mengerti dan memahaminya lagi.
Ku cari siapa yang harus ku temui, agar ia pergi. Dan saat ku temukan, aku yang tiba-tiba terjatuh, luruh tak berdaya. Mataku meredup, jantungku berdetak lebih cepat, dan tak mampu bergerak lebih jauh lagi.
Haruskah aku yang mengatakan bahwa yang singgah dihatiku hanya berkenan pergi, ketika dia mau menghampiriku?
Haruskah aku bersimpuh mengharapkan pertemuan indah agar ia tak kembali menuntutku?
Haruskah aku tetap dengan ego ku untuk diam karena dengan bertemu dengannya aku lumpuh?
Hanya tangis yang memahami maksudku.
Saat semuanya membuatku lelah, tersadar bahwa Tuhan yang memang mengirimnya datang kepadaku. Dengan maksud yang tersirat dan tak ku ketahui.
Tuhan yang mengatakan bahwa Dia adalah majikannya. Tuhan yang memberikan jawaban bahwa hanya kepada-Nya aku dapat mengembalikan rindu untuk pulang.
Tuhan, aku terlalu naif mengakui memang seharusnya rindu itu ada. Seharusnya rindulah yang menemani rasa sayangku padanya untuk tetap bertahan.
Sejak malam itu, tangisku tak pernah mereda karena merindukannya. Mengadukan pada-Mu bahwa lidahku kelu. Meminta-Mu untuk menyampaikan padanya. Karena hanya Kau Tuhan yang mengerti apa mauku. Bertemu hanya mimpi, berbicara melepas rindu itu mustahil.
Tapi Tuhan, sejak aku merajuk rindu kepada-Mu aku merasa lega.
Merasa bahwa aku tak pernah kesepian. Percaya dengan kuasa-Mu rinduku tersampaikan.
Tuhan, meski aku tak pernah berani mengakui rindu kepadanya indah, tapi aku yakin Engkau tak pernah tega membiarkanku memikul rindu itu sendirian.
Untukmu yang ku rindukan, maafkan aku yang menampung rindu tanpa persetujuanmu terlebih dahulu. Karena aku lebih percaya menitipkannya kembali pada Tuhan. Agar hikmad merasakannya melalui untaian doa. Semoga pada saatnya nanti, masing-masing dari kita tak lagi malu dan takut untuk mengakui "Aku rindu padamu" dalam izin Tuhan yang indah.
Komentar
Posting Komentar