Bersabarlah Sebentar Hati, Jalan Tuhan Lebih Indah Dari Semua Ini!

Hai, hati. Kau apa kabar? Lama tak pernah mendengarkanmu berbicara. Atau memang aku tak peka akan suaramu?
Maaf. Mungkin hanya itu yang dapat ku utarakan padamu.
Adakah hal yang ingin kau sampaikan padaku, hati?

---

Maafkan aku, lebih memilih diam dibandingkan bersuara.
Maafkan aku, terkesan merahasiakan sesuatu dari yang lainnya.
Maafkan aku, mendewakan kesendirian daripada kebersamaan.

---

Kau sedang tak baik-baik saja?
Katakan hati, katakan padaku apa yang kau alami? Apa yang kau rasakan?

---

Bolehkah aku memulai menceritakannya padamu?
Siapkah kau menampung beban yang telah lama ku pikul?
Sedangkan kau tau, merasakanku rapuh seperti ini, pasti kau akan lebih terjatuh lagi.

Aku tengah kecewa. Pada siapapun yang berani dengan sangat tega melukaiku. Cara yang dilakukan tak pernah mau menengok bagaimana reaksinya terhadapku. Melonglong di awal pertemuan semua akan baik-baik saja. Nyatanya?
Siapapun mereka, diantara yang menyakitiku dengan pelan-pelan menusuk. Atau terang-terangan membunuhku.

Kemudian, mereka yang tak tau diri. Tak pernah berkaca bagaimana bentuk diri mereka. Sudahkah lebih baik dariku? Atau justru lebih buruk?
Mereka bermain indah di atas kesedihan yang lainnya. Menjatuhkan kemudian mereka berlari menolong bak pahlawan. Lalu aku disingkirkan kembali.

Lalu, tentang rasa yang merekah. Di antara kawanku, mereka dengan mudahnya memiliki hati yang lainnya. Manis seperti gula. Bertahan diantara ribuan semut yang menginginkannya. Saling setia tanpa rasa curiga.
Aku bahagia. Bukan semestinya resah.
Yang ku cemaskan hanyalah aku. Aku yang tak berani berbicara, mengutarakan apa yang menjadi maksudku. Memilih diam dan bersikap seolah tak terjadi apa-apa. Dan akhirnya penyesalan yang menghampiri.
Yang seharusnya bahagia, justru diriku terluka.

Atau hal lain.
Diriku yang dibandingkan dengan kesempurnaan fisik. Mereka lupa bahwa dalam tubuh masing-masing insan terdapat kawan-kawanku yang menetap disana. Aaaarrrgghh.. Aku frustasi.

Begitukah Tuhan menciptakan aku? Hanya bahagia sejenak, kemudian derita sepanjang waktu?
Menciptakan diriku paling rapuh dibandingkan dengan anggota badan yang lain?
Mengapa Tuhan menjadikan ku seakan tak memiliki prinsip yang kuat?

---

Hati.. Kau ini organ terindah ciptaan Tuhan. Ayolah pahami. Hanya kau yang dapat merasakan kemudian memaknainya dengan rasa yang benar ataukah salah. Yang tulus atau main-main. Yang jujur atau berdusta.

Hati, bisakah kau bersabar sedikit?
Kau adalah hati yang penuh dengan segala anugerah Tuhan. Kebaikan-kebaikan mu belum tentu diberikan Tuhan kepada hati yang lain. Kau cukup tangguh menghadapi semua ini dalam diam mu. Terlebih sepasang hatimu tak terlihat mendampingimu lagi.

Kau ingat, saat mereka menertawakanmu karena sisi dirimu yang berharga patah? Saat mereka memujamu kala hatimu sekedar berbunga sebentar? Saat mereka meninggalkanmu dalam sendirian padahal kau ingin bersama? Saat hati yang lain memilih untuk menjaga jarak dari padamu?
Ingat kah kau hati? Dan kau diam tak pernah membalas. Kau tetap berbuat baik, meski kau terkadang menampakkan ketidaksudianmu untuk berpura-pura. Sebab kekesalanmu sudah mencapai puncaknya.

Hati, ku mohon bersabarlah sebentar lagi. Percayalah pada yang Maha Menciptakan bahwa kau jauh lebih tegar.
Abaikan mereka yang tega kepadamu. Karena itu akan membuatmu terpuruk layu kemudian jatuh.
Hindari berkawan dengan hati yang berwujud iblis, karena itu yang akan menyebabkanmu terhalang untuk dekat dengan para Malaikat, sedangkan Tuhan lebih memihak kepada Malaikat.
Jalani saja perjalanan rasamu yang membuncah terhadap hati yang lain, ikuti alurnya kemana ia pergi. Kau harus banyak bersyukur dan ikhlas jika memilih jalan ini.
Yang terakhir, tutup matamu. Gunakanlah pendengaran untuk mendengarkan suara-suara tak berwujud nyata. Dengarkanlah penuh irama. Kau akan temui kebenarannya. Biarkan saja mereka mengutamakan paras daripada kau, hati. Biarkan saja. Kelak saat mereka patah dan menyerah, kau yang akan lebih diutamakan.

Hati, ku mohon dengan sangat percayalah semua itu akan indah pada waktunya. Masalah proses biar Tuhan saja mengatur. Kau cukup merubah jika kau rasa yang ditakdirkan Tuhan tak sesuai dengan yang kau mau. Percayalah hati, Tuhan Maha Segalanya. Bersabarlah sebentar saja. Kau akan menemukan jawabannya. ~

Komentar