Senandung Rindu Dalam Batas

_ Kesalahan terbesar adalah ketika kita mencintai seseorang dengan bermodalkan perasaan. Tanpa tunjangan dari keberanian dan aksi untuk mengakui. _

Seperti sore ini, disebuah tempat dengan letak paling ujung berdiri sosok wanita berperawakan mungil, namun penuh pesona bagi setiap adam yang melihatnya. Sarah Pradipta. Dengan dress polkadot ungu dipadu flat shoes putih, ia menatap lalu lalang kendaraan dihadapannya melalui kaca yang sedari siang tadi menyisakan butiran kecil air hujan.

“Mbak, mungkin mau tambah menu lain?”, suara pramusaji mengagetkannya dari lamunan.
“Maaf mas, nanti kalau saya mau bisa langsung panggil masnya ya..”
“Sedari tadi mbak hanya berdiri melihat suasana di luar. Saya kira lagi nunggu hujannya reda”.
“Oh, ga mas. Saya Cuma nunggu seseorang”. Jelasnya pada pramusaji. Jelas-jelas dia berbohong.
“Baik mbak. Mohon maaf, saya permisi kalau gitu”.
“Terimakasih tawarannya”.

Sarah masih dalam posisi awalnya. Kembali menatap kaca bening dihadapannya.

‘Aku harus bagaimana lagi. Menunggu? Padahal aku tak pernah mengungkapkan. Mengajaknya bicara? Sedangkan aku tak pernah berani walau sekedar menyapa’.

Hujan kembali hadir bersamaan dengan gemuruh gelisah hatinya. Ia berusaha mendinginkan hati yang memanas sejak awal pertemuan. Menyesali tatap mata yang singkat, merindukan senyum yang hangat. Kali pertama Sarah cemburu dalam diam.

***

“Sar, lu ngapa sih kebanyakan diem? Kesurupan pocong?”.
“Eh, engga kok Des. Cuma lagi pengen diem aja”.
“Diem setahun maksud lo?”
“Ga juga. Cuma gue lagi males ngomong Des”.
“Buset. Ini juga lo ngomong kampret!”.
“Ya kan lo ajak ngobrol”.
“Amit amit deh”.
“Lo ganggu tau, kalau kamar kita ga satu gini uda gue usir lo!”.
“Dih, ngambek. Eh, gue inget deh kemarin kita kan selepas karaoke, lo sempet liat siapa itu yang anak Band di kampus?”.
“Siapa sih?”.
“Lo pikun apa sengaja? Basi cara lo”.
“Kevin? Danis? Arga? Andra? Farid?”.
“Nah, si Arga. Itu dia bagian apa?”.
“Ngapa emang? Naksir? Gitar kayanya. Tapi denger-denger bisa main drum juga sih”.
“Udah ganteng, banyak yang terkesima, eh jago drum juga. Pantes ya Laras juga naksir”.
“Bukannya ganteng si Farid? Kan perfecto”.
“Dimana-mana aura vocalis nyata lah ya Sar”.

Bukan semakin membaik, Sarah justru semakin getir. Perasaan yang berkali-kali berusaha ia hapus kembali hadir. Ia tak mau siapapun mengusik siapa yang hendak dilupakan. Apalah daya, Desty sahabatnya sekalipun tak pernah mengetahui siapa pria yang menculik segenap rasanya.

“Ya, gitu deh. Tiap vocalis pake jampi-jampi kayanya. Hahaha..” , tawa sumbang.
“Eh, kalau diperhatiin Kevin manis loh. Dia juga jago gitar kan? Tapi sembunyi diantara jari-jari gagahnya. Padahal keren main gitar. Coba langsing dikit gitu pasti gue mau Sar. Hehehe. Menurut lo gimana?”.

Deg. Nadinya nyaris berhenti. Sesak menyeruak. Kekuatannya melemah. Tatapannya kosong.

“Sarah! Kuping lo budeg apa? Ngomong ini gue”.
“Iya Des. Apa?”.
“Si Kevin buncit itu loh. Menurut lo gimana?”
“Bibir lo ga usah jeplak buncit segala napa. Lo inget lemak-lemak lo juga numpuk. Ngatain lagi”.
“Kok sewot? Lo kenapa Sar?”.

Bodoh. Sarah bodoh. Kenapa harus tersinggung? Kevin siapanya? Lalu, apa haknya?

“Ya ngatain  orang liat diri sendiri lah. Kevin menurut gue ganteng. Definisi ganteng dari segala sisi. Mungkin dia emang lebih berisi dibanding yang lain. Tapi dia punya pesona lain, ya mungkin ga semua orang bisa rasain sih, Des. Semua pada ngeliat si Farid sama Arga. Bagi gue juga keduanya biasa. Kevin ga gendut banget kok”.
“Sar? Lo waras? Ganteng segala sisi? Emang lo kenal Kevin secara langsung?”.

Skakmat. Keceplosan. Gugup.

“Eh, ga gitu. Maksud gue semua orang bisa dilihat gantengnya kan ga dari fisik doang Des”.
“Tapi.. Lo aneh deh. Lo ketemu si Kevin juga kan pas nganter gue beli novel baru? Atau ada something Sar?”.
“Engga, udah yuk cari makan. Laper gue. Nih cacing ga bisa diem”.
“Yaudah sambung ntar, gue ganti baju ya..”

***

Gitar merupakan alat musik yang dapat dimainkan oleh kaum adam. Tepatnya biasa dimainkan. Sedangkan piano dan keyboard, mungkin tak sembarang orang dapat menciptakan melodi daripadanya.

Kevin Wicaksana, Mahasiswa jurusan Teknik Informatika di kampusnya ini lebih dikenal sebagai Master Pianis. Bagaimana tidak, ia selalu berhasil menghipnotis siapapun yang mendengarkan rangkaian jemari tangannya dalam mengalunkan melodi. Musik apapun yang dimainkan, ia sanggup membuat pendengar menikmati setiap alunannya. Badannya memang berisi, tapi tetap ideal bagi kaum adam. Ditunjang dengan tinggi badannya yang memang lebih tinggi diantara personel lainnya.

“Kev, ntar sore kumpul ya. Di cafe Classic. Depan taman yang deket halte itu loh. Bisa kan?”.
“Bisa sih. Cuman agak telat gue. Biasa, anter Mama lah jenguk Oma”.
“Oke, salam buat Tante Eva ya. Oma lo kangen kita tuh makanya sakit”.
“Hahaha, lo apaan ah Ga. Oma besok juga uda enakan. Kalau uda telat makan langsung kambuh gitu”.
“Makanya itu, biasanya kan kita yang ramein rumah lo”.
“Itu kan kalau Oma pas dirumah. Oma kan lagi tinggal bareng Eriska”.
“Oh, sama adek lo. Salam juga buat Oma cepet sembuh. Oh iya Kev, ntar bawain list lagu buat manggung ya. Gue lupa nih kaga sempet nyalin”.
“Iya Ga. Gue cabut ya. Mama udah bbm nih”.
“Yoi, atiati”.

***

“Sarah, Desty!”.
“Eh, iya Ca? Kenapa kok lari-lari gitu?”.
“Tugas Manajemen Asuransi kapan hari kan buat lusa ya? Ngerjain finishingnya di Cafe Classic ya?”.
“Jam berapa Ca?”
“Jam empat sore ya, biar ga malem-malem aja Des”.
“Yaudah, ntar ketemu disana ya..”
“Dadah..”
“Dadah Oca..”

***

Hari ini mood Sarah berantakan. Pagi tadi saat ia memasuki kelas, Bu Mirna, dosen mata kuliahnya itu menyuruhnya menerangkan Bab III paragraf ke 4 tentang sejarah berdirinya Bank. Ia gelagapan. Seingatnya hari ini bukan mata kuliah Perbankan. Tapi kelas Bisnis. Nyatanya ia salah hari. Ini hari kamis, bukan jum’at. Alhasil, ia harus menahan malu mendengarkan Bu Mirna ngomel-ngomel di hadapan yang lain karenanya.

Ditambah lagi, Erna merusak buku catatan mata kuliah Bahasa miliknya. Hanya karena berebut dengan Tata yang sejak tiga hari lalu belum selesai menyalin catatan.

Terik matahari membuat Sarah mendengus kesal, pasalnya ia menunggu angkot sejak setengah jam lalu, tapi sampai saat ini belum juga muncul. Sedangkan Desty masih di perpustakaan kampus, mengerjakan tugas bersama kelompoknya.

‘Ini angkot pada kemana sih? Udah capek yang nunggu’. Gumamnya dalam hati.

“Hei, anak Keuangan ya?”
“Iya. Arga ya?”.
“Bareng yuk, dari tadi juga ngeliatin elo capek nunggu angkot. Daerah mana? Kost atau rumah?”.
“Deket sih. Cuma kalau jalan capek. Itu deket perempatan ke arah pasar Gading. Aku kost”.
“Yaudah ayo naik sini. Namanya?”.
“Sarah”.

Kedengarannya si Sarah ini gampang banget nerima tawaran. Apalagi dari pria yang diincar wanita-wanita kampus. Arga si gitaris band kampusnya. Bukan karena gampangan, tapi Sarah lelah nungguin angkot yang ga muncul-muncul. Ini kan rejeki nomplok.

***

“Makasih yaa Ar uda nganterin. Mampir dulu?”.
“Engga usah lah Sar, thanks. Kalau ketemu lagi bareng ya. Atau next time bisa main sini. Hehe..”.
“Iya. Makasih Ar. Hati-hati dijalan”.

_ Mungkin Tuhan menguji ruang hati. Membolak-balikkan rasa yang tercipta. Ada sisi nyaman dengan yang lain, namun berontak. Masih menempatkan dia di bagian terdalam pusat ruang hati. Ini egois. Namun, kenyataannya demikian. _

‘Aku ga ngerti harus gimana lagi. Ini sebatas kekaguman atau memang perasaan sayang ingin memiliki. Bukannya itu obsesi? Aku harus apa lagi? Berbicara padamu saja tak pernah. Lalu dimana ada cara untuk mengakui aku membutuhkanmu, hatiku penuh karenamu. Ini gila. Atau hanya aku yang gila. Sadarkan aku dari mimpi dan kenyataan dengan adanya kamu disini. Kamu berbeda. Dengan itu juga rasaku akhirnya ada.’

Hujan masih memberikan waktu pada matahari untuk beristirahat. Menyuruh langit agar tetap teduh. Membiarkan awan yang meronta mengharap penghentian.

“Sarah, sejak kapan deket sama Arga? Kok tadi Arga nyapa kamu sih?”.
“Tau nih, lo deket sama Arga ga bilang gue Sar. Pantesan aja ada something tentang Kevin. Ga ngaku”.
“Apa sih kalian ini, kenal tadi kok. Ceritanya ntar aja. Ayo diselesain. Buruan ah”.
“Kepo dodol. Peka kek..”.
“Iya Des ntar aja, ini tolong rapiin garisnya ya Ca”.
“Kevin?”, Oca kaget.
“Yaampun kok dengerin Desty sih Oca, aku tinggal pulang nih”.
“Ngancem..”, ujar Desty dan Oca serempak.

***

Mereka berempat menunggu Kevin, sudah satu jam berlalu dia belum juga hadir.

“Rid, contact dong si Kev. Lama banget ga nongol-nongol”. Danis sedari tadi greget sama Kevin.
“Hujan. Kali aja neduh. Udah kita bahas project bulan depan aja gimana?”.
“Ndra Ndra, lo bahas project tanpa Kevin ya gosong”. Saut Danis.

Baru juga jadi ajang pembicaraan Kevin muncul. Dengan ekspresi tak bersalah.

“Ga usah stay cool lo. Tetep gendut. Telat sejam!”.
“Dan, woles napa. Gue bilang Arga kalau telat. Arga mana?”.
“Tuh..”, Farid menunjuk Arga. Dia sedang diantara tiga wanita. Ya, ngobrol dengan Sarah dan kawannya.
“Argaaaaa...”, teriak mereka berempat bersamaan.

***

_ Muncul tiba-tiba tanpa izin. Menetap. Kemudian pergi. _

Dua bulan sejak pertemuan itu. Pandanganku hanya kepadanya. Cantik. Entah bagaimana mulanya, ia menawarkan langkah agar aku maju mendekati. Sampai aku sadar, sahabatku lebih dekat terlebih dahulu.

‘Elo cantik. Humble. Tapi gue dingin. Meski gue sebenernya paham. Elo berusaha bikin gue jadi hangat seperti biasa’.

Kali ini Kevin mematung, mendapati yang dikagumi dengan pria lain. Ada rasa kecewa tersirat diantara kedua bola matanya. Hatinya meradang. Tapi kenyataan membawanya sadar, dia bukan siapa-siapa.

“Arga sama Sarah Cuma temenan”. Itu yang diucapkan Desty. Tapi, menyaksikan hal yang sedemikian rupa membuat Kevin menampik perkataan Desty. ‘Ga mungkin kalau temenan. Sikapnya seperti sepasang kekasih’. Ia mencoba berdamai dengan hatinya. Namun, logika tak memberi ruang damai.

Ada sakit disini. Tapi aku siapa? Orang baru yang hanya mengagumi mu dari jauh, walau sebenarnya dalam hitungan detik aku bisa saja menemuimu.

***

Jarum jam kian berlalu, perubahan cuaca semakin tak menentu. Sampai detik ini, cinta hanya sebatas angan tanpa perjuangan.

Aku lelah. Aku bingung mendapatimu semakin jauh. Tak menarikkah aku? Atau aku saja yang terlewat batas mengharapkan kehadiranmu?

Diantara rasa ingin memiliki, namun tak pernah sampai. Diantara ruang kasih yang semakin menuju ke permukaan.

Sarah menghentikan taksi dihadapannya. Menuju cafe dimana ia sering melihat Kevin memainkan piano dengan indah. Memesan satu gelas jus orange. Menunggunya hadir. Dengan sisa-sisa rasa rindu tak bersua. Berharap kedua bola mata saling menatap menyampaikan rindu. Walau Sarah tau, Kevin tak pernah merindukannya. Arga yang mendekatinya, bukan Kevin.

Baru setengah gelas ia minum, Kevin hadir. Ia sendirian. Hanya dentingan piano tanpa merdunya suara dialunkan. Entah lagu apa yang kini Sarah dengar. Yang jelas hatinya bahagia, rindu itu mulai menghambur seiring Kevin menyuarakan irama.

Sarah berdiri mendapati Kevin mengakrabkan diri dengan yang lain. Melihat dengan jelas bagaimana Kevin tak pernah dingin. Menyesali sikap yang selama ini Sarah dapatkan darinya.
Ia beralih menghadap kaca. Berharap agar Kevin segera pergi. Meninggalkannya diantara sisa-sisa kerinduan.

“Mbak, mungkin mau tambah menu lain?”, suara pramusaji mengagetkannya dari lamunan.
“Maaf mas, nanti kalau saya mau bisa langsung panggil masnya ya..”
“Sedari tadi mbak hanya berdiri melihat suasana di luar. Saya kira lagi nunggu hujannya reda”.
“Oh, ga mas. Saya Cuma nunggu seseorang”. Jelasnya pada pramusaji. Jelas-jelas dia berbohong.
“Baik mbak. Mohon maaf, saya permisi kalau gitu”.
“Terimakasih tawarannya”.

Sarah masih dalam posisi awalnya. Kembali menatap kaca bening dihadapannya.

‘Aku harus bagaimana lagi. Menunggu? Padahal aku tak pernah mengungkapkan. Mengajaknya bicara? Sedangkan aku tak pernah berani walau sekedar menyapa’.

Hujan kembali hadir bersamaan dengan gemuruh gelisah hatinya. Ia berusaha mendinginkan hati yang memanas sejak awal pertemuan. Menyesali tatap mata yang singkat, merindukan senyum yang hangat. Kali pertama Sarah cemburu dalam diam.

‘Terimakasih pernah hadir mengisi kekosongan hati. Terimakasih pernah membuatku menunggu dalam diam. Dan, terimakasih telah membuatku menyadari ada yang jauh mengerti daripada kamu’.

_ Ketika merindukan yang lalu hanya beberapa saat. Lalu teringat dengan yang hadir di depan mata walau tak pernah mampu diraih. Hati bergeming. Pejaman mata menandakan, ‘Aku bahagia cukup menyaksikan mu dari jarak yang terlampau jauh. _

 Nadhev Schaar - 1 Agustus 2016.

Komentar