Sekedar Pewarna Tanpa Makna

Aku tau, aku mulai mengagumi sosoknya yang istimewa itu. Meski sekedar teman dekat.

“Dhiiiiirr.. Ini ada titipan dari Yogi. Katanya sih mumpung masih anget.”

“Thanks yaa Ges. Betewe ketemu dimana sama Yogi?”

“Tadi, pas kelar senam. Udahan ya, aku mau balik duluan.”

“Iyaa, thanks yaa Ges.”

Sosoknya memang luar biasa dimataku, meski pandangan yang lain mengatakan berbeda.

---

Hujan masih mengguyur jalanan kota Surabaya kali ini. Padahal sudah pukul delapan pagi. Dhira harus segera pergi ke kampus. Mengingat kuis mata kuliah Akuntansi sudah siap dinikmati.

‘Yaampun, belum reda juga. Mana mobil dipake Dandy dari semalem belum balik lagi. Masa iya calling taxi. Setengah jam lagi kudu sampe kampus lah. Gojek aja deh.’ Ujarnya dengan perasaan yang luar biasa resah.

“Kak, dicariin temen mu dibawah.”

“Dandy, kemana aja sih? Aku butuh mobil kamu ga balik-balik.”

“Ngomelnya ntaran aja deh. Ditungguin.”

“Ga tau diri banget!”

Dhira segera turun ke bawah, mengecek siapa yang datang ditengah hujan deras begini.

“Yogi..”

“Eh, Dhir. Sorry ga ngabarin kalau mau mampir. Bu Desy ga masuk, jadi kuisnya ditunda minggu depan. Santai aja.”

“Hah? Ngaco. Seriusan?”

“Ga ngecek info di Line? Udah rame bahagia loh Dhir sekelas.”

“Bentar deh Yog, ampun sumpah paketan abis. Yaampun aku udah kebingungan tau ga sih.”

“Hahaha. Oon aja deh kamu Dhir. Sini duduk. Masa tuan rumah berdiri kaya satpam gitu.”

“Ih, beneran deh Yog. Aku gatau abis kuota gini. Padahal baru seminggu. Boros akunya.”

“Dih, nyadar boros? Mirip kamu kalau beli lipstik boros. Hahaha..”

“Apaan bawa-bawa lipstik? Biarin dong, menggoda setiap pria yang memandang.”

“Dhira.. Dhira..”

Deg. Mungkin begitu suara jantung Dhira sesaat karena kaget Yogi mengelus kepalanya. Mata keduanya saling menatap. Entah bagaimana rasanya ketika diperlakukan seperti itu oleh orang yang dikagumi.

“Dhir, kenapa?”

“Gapapa Yog, udah sarapan?”

“Belom. Makanya kesini. Sekalian reda ngajakin jalan kamu sih. Kenapa? Kamu masak?”

“Kaga sih, ya kirain kamu ga peka aja..”

“Dih, aku pekaan jadi cowok. Emang itu tuh mantanmu yang ga pekaan? Hahahaha...”

“Ga usah bahas itu, atau kamu pulang aja.”

“Sayang aku ngambek yaaa.. Ye, jelek tau..”

Mereka berteman, meski belum terlalu lama. Keduanya dekat. Mengatasnamakan teman dekat. Tapi bagi yang memandang kedekatan mereka, itu bukanlah sekedar teman. Namun lebih. Lebih dari itu.

---

Sudah cukup lama aku dan kamu seperti ini. Entah siapa yang pada awalnya memulai. Aku merasa bersalah atas perasaan ini. Tapi aku bisa apa?
Aku tak pernah berpikir sejauh ini saat kamu dekat. Perasaan itu yang tiba-tiba masuk tanpa ijin terlebih dahulu.
Aku boleh saja bodoh, mengharapkan perasaan dan kepastian yang lebih dari kamu. Yang diantara wanita lain pun saling berebut mendapatkan itu.
DN. 19032016.

---

“Halo sayang. Ngapain ini? Udah sarapan belom? Nih, aku tadi beli sandwich di toko depan.”

“Ngagetin aja sih, tadi gimana? Ngapain dipanggil Pak Chandra?”

“Elah, nih makan dulu. Iya tadi Pak Chandra nanyain nilai anak-anak pada jeblok. Aku ketua kelas cuma bilang aja kalau Bapaknya itu ngejelasin kadang ga dipahamin anak-anak. Udah sih gitu aja Dhir.”

“Sebenernya kalian aja ga suka sama beliau. Ya kan? Alasan doang..”

“Masa aku tega gitu bilangnya. Sakit lah Dhir.. Hahaha..”

“Ih, basi..”

“Dhir, pulang kelas Praktikum ke Denish Cafe yuk..”

“Ngaps? Nraktir? Banyak duit banget. Hahaha.. Atau curhat?”

“Udah deh. Gabut pokoknya..”

“Yaudah deh, ayok ajah. Asal..”

“Iya iya ntar aku bantuin makalahnya deh..”

“Beli minum dong Yog, aus aku.”

“Dhiraaa.. Males lah.”

“Yaudah ga jadi ngafe.”

“Iya nyonya bawel.”

---

Sikapmu yang seperti Yogi, aku mohon sedikit saja kamu sadar. Semakin kamu begini, aku sakit.
-Vierra, Perih- Mode On.

“Mau ngapain kesini? Lagunya bikin baper semua loh.”

“Ah kamu Dhir, baperan aku loh. Itu si Rasti.”

“Oh, Rasti. Kenapa sama dia? Udah putus kan?”

“Semalem jalan sama dia.. Tapi ga bilang kamu aja aku.”

'Yogi, kamu pikir aku siapa sampai kejadian semalam aku ga tau apa-apa. Dan, kamu lagi-lagi jalan dengan masalalu yang seharusnya kamu lepaskan. Kamu lagi-lagi merusak moodku. Seharusnya sore ini aku baik-baik saja. Rasanya aku harus pura-pura lagi.'

“Kenapa ga bilang Yog?”

“Iya, bingung mau bilang sama kamu. Ya aku tau sih, biasanya aku cerita. Tapi emang semalem Rasti dadakan ngajak ketemu.”

“Dia ada perlu apa sama kamu?”

“Katanya masih sayang aku.. Cuma ga bisa ngelepasin pacarnya itu.”

“Hahaha.. Bodoh ah kamu Yog. Ngapain digubris sih. Oh iya kamu masih sayang. Aku kan uda bilang lepasin. Itu cewek ga bener Yogi.”

'Kamu waras ga sih Yogi, ga mikir apa cewek yang ngakunya sayang kamu tapi nempel sama yang lain. Cinta sama bodoh beda tipis.'

“Maafin aku Dhir, aku emang rada melankolis kalau nyangkut Rasti.”

“Aku pokoknya uda berulangkali bilang sama kamu. Terserah sih kamu yang nyikapin. Mau keluar kek, mau ngedate kek, atau balikan sama dia lagi ya gapapa!”

“Cemburu kamu Dhir?”

“Ih ngapain? Aku Cuma gamau kamu kaya cowok tolol ga guna gitu.”

“Hahaha, bodoh ya aku masih sayang sama dia. Sumpah Dhir, aku gatau bingung.”

“Yaudah sih, biar perasaan itu ilang sendirinya. Capek aku yang bilangin kamu.”

“Ke Surabaya Carnival ayuk, aku bosen.”

“Capek Yog. Besok aja yaa..”

“Ayolah Dhir, please. I need you.”

“Hoh terserah ah.”

---

Demi apa ini aku Yog, demi apa? Kamu bahkan ga pernah dengerin apa yang aku bilang. Apalagi sekedar suara hati. Aku paham kita teman. Iya teman. Tapi seenggaknya kamu dengerin aku. Apasih hebatnya Rasti, yang sudah mencabik-cabik hatimu dengan cara menduakan. Tapi masih saja hatimu untuk dia. Lelah berhadapan denganmu. Kamu butuh aku saat ini, tapi aku rapuh. Sungguh.

Aku seperti sebuah buku yang terbuka di hadapanmu.
Tiap kata yang tersurat.
Tiap halaman yang terlampir.
Telah kau baca dan selami..
DN. 23032016.

---

Iya, mereka saling mengenal satu sama lain. Saling menceritakan setiap detik yang mereka alami. Tak ada yang disembunyikan. Tak ada yang ditutupi. Keduanya membenci kebohongan. Membenci hal yang buruk itu. Bahkan, sekedar saling bercanda tawa hal yang tak penting pun mereka lakukan.
Nampak mungkin dengan jelas, yang memandang bahwa mereka sepasang kekasih. Kedekatan yang intens dalam batas wajar. Namun, bukan itu yang selama ini terjadi.
--- 


“Aduh Yogi, jangan ditinggal akunya.” Menggos-menggos.

“Abis kamu tarik-tarik baju aku, molor jadinya. Hahaha.. Takut yaa..”

“Ga usah nampangin muka devil gitu ah. Spot jantung tau.”

“Makanya ga usah ngajak masuk Pirate Ghostship kalau takut.”

“Beli minum. Ayuk ah Yog.”

“Iya sayang, bentar ah. Capek nih.”

“Ayuk ayuk..”

“Iyaa nyonya..”

“Serem yah tadi.” Nyeruput Nestea.

“Buat kamu Dhir.”

“Ih, kamu main tinggal aja sih.”

“Mau main apa lagi?”

“Bledek Coaster!”

“Sumpah gila, kaga Dhir.”

“Ayuk ah Yog.”

“Gamau!”

“Sayang aku ga?”

“Najis! Ga ah. Naik sendiri.”

“Yaudah gausah panggil sayang segala. Bye!” Lari menuju wahana.

‘Ngambekan. Maksa. Untung ya Dhir kamu itu berharga buat aku.’ Ujar Yogi dalam hati.

“Tungguin, iya ayo naik.”

---

Kali ini Dhira resah. Sudah dua hari ini Yogi menghilang. Jarang ketemu di kampus karena mereka memang beda jurusan. Biasanya jam-jam segini Yogi Line mengajaknya ke kantin atau ke taman kampus. Entah ada apa dengan Yogi, terakhir chat darinya hanya dibaca tanpa balasan.

‘Yog, kemana sih. Telponku ga pernah diangkat.’

Sakit memang mendapati hal yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Seseorang yang jatuh dihidup kita, terbiasa bersama. Tiba-tiba menghilang begitu saja. Tanpa sepatah kata pun.

Dhira berhenti. Dia berhenti bukan karena lelah dan menyerah. Tapi merasa apa yang dikorbankannya sia-sia. Semata menemani Yogi disaat butuh. Tapi saat tugasnya usai, ia menghilang.

--- 

Dua minggu berlalu. Dhira diam. Meluapkan emosinya hanya pada sebuah kertas kecil dengan isi seratus halaman. Menangis seperti kehilangan barang kesayangan. Mengatupkan jemarinya diantara kedua mata. Yogi benar-benar pergi. Tak pernah peduli bagaimana perasaannya. Dhira hanya merasa bodoh saat itu. Merasa dipermainkan ketulusannya oleh Yogi. Yogi yang memulai lalu mengakhiri. Datang dengan manis namun pergi secara sadis.

‘Aku sudah terbiasa tanpa kamu Yog, aku sudah terbiasa. Terimakasih pernah mewarnai hari-hariku selama ini. Sebentar tapi berharga sekali.’ Dhira berbicara dengan potongan foto yang terkumpul dalam satu frame di meja belajarnya. Kemudian, memasukkannya dalam sebuah kotak kecil. Merapikan agar tak dapat dilihat olehnya lagi.

Tririring. Tririring.
‘Ada telpon. Siapa ya?’

“Halo..”

“Dhiraa..”

Mungkin kalian tau rasanya saat berada diposisi Dhira. Berusaha susah payah melupakan, akhirnya datang kembali. Menghilang tiba-tiba lalu hadir tanpa permisi.

“Dhir, denger aku kan? Halo Dhiraa..”

“Ada apa Yog? Kenapa?” Tangannya gemetar.

“Sorry aku ngilang yaa Dhir, hape aku dibawa sama si Rasti. Aku ga bisa neghubungin kamu. Eh, lagi dimana? Aku samperin.”

“Ga usah. Gapapa Yog.”

“Dhir maafin aku ya..”

‘Harusnya kalau memang masih menyayanginya jangan buat aku begini Yogi, sakit. Kau pikir aku ini apa? Game kah? Sebosannya kamu meletakkan aku. Saat kamu mau, kamu mainkan lagi. Aku manusia Yogi. Kamu menghilang karena Rasti. Apa ga ada alasan lain?.’ Hati Dhira teriris. Alasan yang tak dapat diterimanya. Masih tentang Rasti.

“Dhiraaaa.. denger aku kan?”

“Iya.”

“Aku jemput. Masih jam tujuh kok. Bye!”

“Eh.. Yog, halo.. Yah, mati.”

Dhira masih menangis. Lalu buru-buru mengusap air matanya. Berdiri, kemudian membasuh muka.

‘Kamu sehat kan Yog? Kenapa datang lagi? Atau karena kamu memang sayang sama dia. Padahal dia sudah menyakitimu terlalu dalam. Masih memilihnya. Bahkan alasanmu menghilang itu dia. Hape dibawa dia. Apa-apaan ini.’

---

1 April 2016.

Sejak malam itu, aku masih menerimamu. Memaafkanmu tepatnya. Aku berusaha berpikir positif. Sampai pada suatu percakapan yang melibatkan hati masing-masing.

“Dhir, lucu yaa temen aku itu. Hahahaha..”

“Kamunya sih oon. Kasian tau. Jail banget.”

“Hahaha, abis dia ngeselin. Yaudah dikerjain.”

“Ngeselin apa sampai kamu ngerjain dia gitu? Hahaha..”

“Ngingetin aku sama Rasti. Kan sebel. Eh, tapi aku emang masih sayang. Meski berusaha ngelupain. Kamu tau ga, pas ketemu dia kapan hari kacau langsung aku.”

“Oh gitu.”

“Bingung aku. Kacau masih kalau bahas dia terus. Ah udah ga usah dibahas hehehe..”

“..........” Menangis.

“Dhira ih, dengerin ga sih?”

“..........” Masih sama.

“Dhir, kamu kok diem? Dhir, belom mati kan telponnya?”

“Ga kok Yog.” Terisak.

“Dhira, kamu nangis?”

“Gak Yog.”

“Dhir, maaf bukan maksud aku bikin kamu nangis kaya gini. Aku cuma cerita.”

“Iya aku paham kamu sekedar cerita. Tapi dia masalalu kamu kan Yog? Kamu ini sengaja telpon aku cuma buat bahas dia terus apa? Ga ada bahasan lain? Iya aku tau aku Ccma temen kamu ga lebih. Seenggaknya ga usah bahas dia kalau sama aku. Yaudah balikan aja sama dia. Ngapain balik ke aku lagi? Kamu kira aku game hah?”

“Dhir, kok gitu ngomongnya..”

“Selama ini kamu cerita aku dengerin. Kamu curhat tentang hal yang sama aku terima. Aku masih peduli. Sampai kamu ninggalin aku karena dia. Iya cuma temen tapi jangan seenaknya dong. Meski cuma temen hargain. Kamu bilang lah dikampus kalau hape kamu ga da. Ga bisa apa nyari aku? Aku nyari-nyari kamu. Tapi kamu kemana? Terus kamu dateng lagi dan masih bahas dia lagi. Cerita ke orang lain aja!”

“Dhira, iya kita temen. Tapi aku rasa kamu lebih dari itu. Aku janji ga bakal bikin kamu nangis lagi. Aku janji ga ilang-ilang lagi. Iya aku emang ga bisa lupain dia. Tapi bantuin aku lupain dia Dhir.. Dhira maafin aku.. Aku minta maaf. Aku ga da maksud bikin kamu kaya gini..”

Ya, sejak malam itu kamu memang masih bersamaku.. Masih seperti Yogi yang dulu. Tentunya dengan perhatian yang lebih. Aku dan kamu seperti dulu tanpa bayangnya.
Sampai akhirnya, waktu juga yang membawamu meninggalkan aku lagi, berulangkali..

---

Aku seperti sebuah buku yang terbuka di hadapanmu,
Tiap kata yang tersurat,
Tiap halaman yang terlampir,
Telah kau baca dan selami..

Namun,
Apakah memberi makna?

Aku tak tau.
Karena aku hanyalah sebuah buku.
Yang hanya dibaca sekilas.
Lalu ditutup kembali.
Dan akan kau buka,
Saat kau membutuhkan aku lagi.

---

Terimakasih telah mewarnai hari-hariku lengkap dengan seluruh warna, hingga seluruhnya memudar dan menghitam.
Terimakasih sudah menjadi tinta pelangi, meski akhirnya tercoret lagi berulang kali dengan noda tinta yang meluber luntur.
Aku menjagamu dari kejauhan. Sewaktu kau butuh kembalilah. Sampai kau tau aku tulus padamu.
Terimakasih..

---

Cerpen terinspirasi tantangan Kak Fatim owner Faraganza Surabaya.
Puisi Hanya Sebuah Buku adalah karyanya.

Terimakasih sudah membuatku bersemangat menuangkan karya yang terpendam berhari-hari. :)

Komentar