Saat Kopi dan Hujan Saling Melengkapi :)

Malam masih tak menunjukkan cerianya. Mendung masih saja membuatnya tak bergeming. Menunggu beberapa detik dirinya akan melebur bersama siraman air hujan yang siap meleburkan tetesannya ke bumi.

Aku tak mendengarkan apapun yang seharusnya aku dengar. Aku tak melihat apa yang seharusnya aku lihat. Aku hanya ingin menenggelamkan diriku bersama dekapan malam yang dinginnya mulai merasuk menusuk tulang-tulang yang sejak dari tadi ikut terpaku dalam diam.

Sebelumnya aku sudah menguatkan diri, berjanji agar air mata ini tak jatuh. Tapi, aroma hujan yang mengajakku berkonspirasi meleburkan kesakitan hati ini.
Beberapa part penyebab tangisku belum sepenuhnya terkuak. Aku menyimpannya sendiri dalam sudut-sudut hati yang tak pernah bisa terjamah oleh siapapun.

Seharusnya aku bisa menikmati hari-hariku seperti biasanya. Bahagia saat hujan turun. Menyambutnya dengan tergesa-gesa. Menghamburkan aroma kopi yang biasanya menjadi salah satu menu wajib saat kita bersama.
Ya, saat kita bersama.
Kini, hujan dan kopi menyibakkan luka. Luka yang seharusnya tak menjadi alasanku untuk berhenti. Luka yang seharusnya dapat mengering, supaya aku mampu menaklukkan hingar bingar dunia.

Aku terpaku. Cukup lama. Menangisi kepergianmu. Yang semakin hilang dari pandanganku. Yang terlalu jauh untuk ku gapai kembali.
Kamu. Seseorang yang selama ini mampu membuat ku tegar menghadapi warna-warni dunia. Kamu yang selalu menjadi kotak dari surat-surat kegiatan ku sepanjang hari. Kamu yang tak pernah bosan menaburkan kebahagiaan di sela-sela kesedihanku.

Mataku kembali menerawang. Segala sesuatu yang kita lewati, cukup lama.
Aku menemukanmu di keramaian. Namun, akhirnya merelakanmu di kesunyian.
Langkahku berat untuk bangkit dengan tegak. Tanganku tak dapat meraih apapun. Tersungkur mendapatimu tak lagi menjadi warna dalam gelapku.

Malam dan hujan tak lagi berkomplot. Mereka saling menjauh, menciptakan keheningan.
Dadaku berdegup kencang. Ketika bibir mulai mengatupkan kata-kata yang bertolak belakang dengan hati. "Aku membencimu!". Hati menertawakan bibir yang sedari tadi berusaha melontarkan emosi yang tertahan.
Tak ku pandang lagi langit. Memandangnya membuatku semakin hancur.
Tanpa ku sadari jejak kaki ku membawa ku pergi. Meninggalkan sisa-sisa luka yang tergambar di sana.
Membawaku pada suatu kenyataan bahwa ini bukanlah drama.

-Setidaknya aku sudah berusaha meninggalkan mu di antara bayangan masa lalu. Meski akhirnya sepasang aroma kopi dan hujan masih saja membuat ku tersenyum mengenang dirimu.-

Komentar