Saat Teh dan Kopi yang Berbicara

"Ketika kopi menjadi sebuah keharusan untuk kau nikmati. Sedangkan teh adalah sebuah keharusan untuk ku miliki".

Beberapa tahun silam. Aku menemukan mu dalam diam. Memandang langit yang tak bersahabat dengan sore ini. Setiap tetes kopi yang kau nikmati menjadi pemandangan indah yang sayang untuk ku lewati.

Kau mendongakkan kepala. Sembari menutup mata merasakan aroma kopi yang semakin meringkus rongga dada mu. Aku tau kau tak sedang berbahagia. Ada secuil problematika yang kau sembunyikan di antara obrolan mu dengan kopi itu.

Kau berdiri. Perlahan menjauhi kopi yang sedari tadi menemanimu dalam diam dan kesendirian itu. Sedangkan rasanya kopi masih tak rela kau pergi.

"Teh adalah jiwaku. Bahkan saat matahari mulai menampakkan teriknya, aku tak ingin melepaskannya".

Mematung di hadapan cermin yang ku lakukan. Memasang jarum kecil di antara helaian kain lembut dan pucuk dari dagu ku.
Ku gapit tas yang semenjak malam menungguku membawanya.

Matahari masih dengan sinarnya yang indah. Tak sekejam biasanya. Kali ini dia tahu bahwa aku butuh sedikit peneduh.

Matcha Latte. Apapun jenisnya, teh adalah separuh hidupku. Aku tak kan lengkap menjalani hari tanpanya.
Teh memang dapat menenangkan jiwa yang rapuh. Aromanya mampu membuat manusia merasa lebih bersemangat.
Dengan kesegaran yang ia ciptakan setiap manusia menenggaknya penuh gairah.

"Bisakah kau jelaskan, bagian mana antara kopi dan teh dapat bersatu?"

Langkahmu membuat ku tersentak seketika. Kau menempatkan posisi mu di antara dua bangku itu. Tepat di hadapan ku. Menyapa ku dengan senyuman. Menawarkan sebuah perkenalan singkat. Memberikan ruang bagi rongga-rongga dalam hati ku untuk menerima mu.

Kau tetap dengan kopi mu. Aku tetap dengan teh ku.
Kau begitu kurang ajar. Kau begitu menyebalkan.
Saat ku sadari di hadapanku adalah kopi yang biasa kau nikmati. Lalu teh separuh jiwaku sudah berada tepat ditengah kedua tanganmu dan siap untuk merasuki tubuhmu yang menakjubkan itu.

Aku jatuh cinta.
Di antara frekuensi masa lalu yang belum sepenuhnya memudar.
Aku menemukanmu.
Di waktu yang seharusnya aku membencimu teramat sangat.

"Akan ku jelaskan tentang satu hal yang harus kita pahami".
"Apa maksudmu?"
"Ini kopiku. Dan ini teh favorit mu".
"Lalu demi apa semua ini?"
"Kau pernah bukan mencintai seseorang?"
"Kembalikan teh ku!"
"Kau pernah?"

Tatapanmu yang teduh itu membuat ku hampir mati sebab jantung ku yang berdebar melebihi batas normalnya.

"Ya. Aku pernah".
"Kau percaya bahwa kopi dan teh dapat bersatu?"
"Apa maksud mu di awal pertemuan ini?"
"Kopi terkesan pahit nona. Dan teh penuh dengan manis yang sampai saat ini coklat pun kalah dalam leburannya".

.............................................................................

"Teh manis. Kopi pahit".
"Itulah kenyataan mengapa keduanya dapat bersatu".
"Maksudmu bagaimana tuan?"
"Kau pasti paham bahwa terkadang pria selalu menumpahkan keluh kesahnya pada kopi. Sedangkan wanita cenderung menutupi kesedihannya di hadapan teh. Pria selalu terkesan pahit saat rapuh. Wanita terkesan tegar saat terjatuh. Kopi tak selalu membutuhkan gula. Tapi teh pasti membutuhkannya. Pria saat lemah tak berdaya bahkan di titik paling rendah hidupnya yang dalam benaknya hanya solusi dan ketenangan. Wanita selalu membutuhkan tempat bersandar bagaimana pun keadaannya".
"Itu memang benar. Lalu bagian mana mereka dapat bersatu?"
"Bagian saat kau terlalu merasa manis. Sesekali kau harus mencicipi kopi. Agar kau selalu ingat semanis apapun hidupmu, cobaan tak pernah pergi menguji. Begitupun saat kau tengah dilanda kepedihan, sesekali nikmati manisnya teh. Karena sepahit apapun rasanya, kelak bahagia akan datang meski itu tak pernah instan. Kopi membutuhkan waktu lama diproses untuk dapat dinikmati dengan rasa yang asli".

"Teh dan Kopi dapat bersatu. Ku rasa memang begitulah filosofi hidup yang sebenarnya.."

Menemukan mu dalam diam merupakan anugerah dari-Nya. Menikmati setiap gerakmu menikmati menu yang berbeda. Teh dalam genggamanmu. Tak lagi kopi.
Begitu pula aku. Mencintai tiap aromanya yang menusuk, khas. Kopi yang seharusnya menjadi milikmu, kini milikku.
Jika kopi dan teh saja dapat bersatu, mengapa kita tidak?

Hingga akhirnya aku tak lagi khawatir bahwa teh ku akan hilang selama kau yang menikmatinya di hadapanku.

Aku mencintaimu dengan segala perbedaan yang dapat disatukan.

Komentar

Posting Komentar