Sepasang Kaca

-Untuk apapun yang terjadi, hanya aku yang berhak mengetahui sejarahnya. Aku pelaku utama. Dan kalian hanya sekedar penggemar liar ku.-

Aku benar-benar tak mengerti, begitu banyak milyaran manusia di muka bumi ini. Namun, hanya segelintir dari mereka yang sanggup melihat segala kejadian dari berbagai sisi. Jika saja mereka berada di posisi ku atau pernah mengalaminya, mungkin mereka dapat mengendalikan sikap dan ucapannya.

"Lo ga akan pernah bisa meyakinkan kalo elo ga salah, bahkan sebenar apapun elo di mata mereka elo hanya tinta hitam. Pekat dan tak dipandang." Begitu nyatakah ucapan Ara ini, sampai membuatku tersandung dan menjatuhkan buku-buku yang ku dekap.
"Elo bisa bawa ga sih? Manja banget sampe kaya gitu." Bukannya membantu, dia terus mencaci maki.
Ara tak akan pernah tau bagaimana rasanya jadi aku. Karena dia penuh dengan kata sempurna.
"Elo bisu? Gue duluan. Buang-buang waktu nemenin cewek mirip patung kaya elo!"

Apa yang ku lakukan? Bahkan mereka saja tak mengerti aku. Mampu mencaci tanpa memutar balikkan dirinya jadi aku. Apa salahku sebenarnya? Mengungkit tentang mereka saja tak pernah, bahkan aku sama sekali tak tertarik untuk ikut campur dalam urusan kehidupan mereka.

Hujan kembali membuat jalanan kota ini basah, langit juga sepertinya tak memberi sedikit ruang bagi bulan atau bintang menunjukkan jati dirinya.

"Baru balik Mel? Ini jam sebelas loh. Darimana?"
"Gue ga paham. Kenapa kalo orang udah benci itu selalu ngebuat cerita yang ngerugiin. Padahal juga mana pernah ngusik hidupnya. Bingung gue. Usil banget."
"Elo sama Ara berantem lagi Mel?"

Entah kenapa Ara lebih memilih percaya koaran orang di luar sana. Padahal dia tak pernah tau apa yang aku lakukan sebelum atau setelah mengenalnya. Ara bodoh.

-Yang harus kau lakukan adalah mengenal sebelum menilai seseorang.-

"Ra, Imel ga masuk uda empat hari loh. Divisi Komunikasi juga ga tau Imel kemana. Lo kan pacarnya."

Dari hari ke hari mereka selalu menanyakan Imel padaku, dengan mengatasnamakan aku pacarnya. It's oke lah ya memang begitu. Tapi, jujur aku pun selama empat hari tak pernah berhubungan dengannya lagi. Aku kecewa.

Sebelumnya hubungan kami baik-baik saja. Aku kenal Imelda Zyangga dari teman dekat ku, Fadhil. Yang sekarang dia sedang melanjutkan studinya di Negara Paman Sam. Sehari sebelum keberangkatan Fadhil dua tahun yang lalu, dia sempat mengatakan sesuatu. "Elo jagain Imel. Jangan percaya apapun sebelum elo tau kebenaran yang sesungguhnya. Elo tau kan Ra, mulut itu setajam gergaji. Sekali elo percaya, elo udah kena sayatannya satu centi meter. Semakin elo percaya, elo mati."
Aku masih mencerna dengan baik apa maksud dari ucapannya. Dan hingga saat ini, aku tak pernah belajar memahami maknanya lagi.

"Ara! Imel kemana sih? Handphone dia ga aktif. Segala sosmednya juga vakum. Pak Eko nanyain mulu."
"Gue ga tau lah. Ga elo ga Devan nanya semua ke gue."
"Elo kan pacarnya Ra."
"Hmm.."
"Setan lo, sia-sia tanya sama lo!"

Kalau boleh mengaku, aku kangen Imel. Semua hal yang berkaitan dengannya. Wanita yang tak pernah menuntut apapun. Wanita yang selalu mendukung, dan tak pernah meninggalkan ku saat aku terjatuh. Wanita yang membuatku percaya bahwa masih ada manusia berhati bidadari seperti dia. Namun, jika ku ingat lagi ucapan Rahma rasanya sakit. Mengetahui hal yang tak pernah ku duga sebelumnya.

-Saat kau kehilangan seseorang yang menyakitkan. Saat itu juga kau dapat membedakan siapa Malaikat dan siapa Iblis.-

Sebulan berlalu.

"Imel?"
"Apaan Ra? Lo kangen ya sampe nyebut namanya. Bukannya elo nganggep dia mantan?"
"Itu Imelda kan Van? Liat arah jarum jam!"
"Mana sih?"

Ku tinggalkan Devan dalam kebingungan, ku susul Imelda yang tengah membayar segelas Chocolate Brizze. Ia menuju meja nomor sembilan, persis di depan kolam ikan.

"Imel.." Dia menoleh, menunjukkan raut muka terkejutnya.
"Ara. Apa kabar?" Dia tak membenciku, oh Tuhan wanita ini lembut sekali. Aku menyakitinya, tapi dia sama sekali tak menghindariku.
"Gue baik Mel. Elo gimana? Boleh duduk di sini?"
"Iya Ra, duduk aja. Sama gue baik. Gimana kerjaan lo? Awet di kantor kan?"
Matanya sendu, ada pusat kerinduan di sana. Momen seperti ini menghilang sejak tragedi Rahma membicarakannya padaku.
"Iya. Elo resign tanpa kabar? Sekarang kerja dimana?"
"Hehe, sorry Ra. Handphone gue hilang di bus. Lagian ga penting juga kan gue di mata mereka? Jadi kenapa harus ada kabar? Elo pun ga peduli. Hahaha. Lupakan."
"Mel, maaf kalau omongan gue waktu itu nyakitin elo."
"Memang kenyataan kan? Siapa yang bakal mandang gue baik? Mungkin orang-orang yang paham keseharian gue. Lagian ngapain juga susah-susah jelasin gue ke orang lain? Sedangkan orang lain ga butuh itu."
Skak mat. Lidah ku kelu mendapati Imel berkata demikian.

"Mel.."
"Ra, gue mau balikin ini, mumpung inget."

Imel mengeluarkan sesuatu dari tas abu-abunya. Sesuatu yang membuatku serasa berada di antara ribuan paku-paku kecil. Menyakitkan.

"Kenapa? Lo simpen aja Mel. Anggap kenang-kenangan dari gue."
"Gue ga mau benda ini ada ditangan orang penuh dosa. Benda ini cocok kok ditangan wanita suci."

"Maksud lo apaan Mel?"


Imel melebarkan kedua telapak tanganku, menyelipkan sebuah gantungan kunci berbentuk hati dengan bahan dasar kaca bening. Lalu merapatkan telapak tanganku kembali.

"Ara. Lo inget pesan Fadhil kan?. Gue yakin lo inget. Gini, elo kasih benda itu ke gue sebagai tanda sayang lo kan? Dan lo bilang gue satu-satunya wanita berhati bidadari dan berbeda dengan wanita lain. Gue rasa sekarang predikat itu ga berlaku lagi buat gue. Lo bilang gue tinta hitam, pekat dan tak dianggap. Jadi, gue rasa benda ini harus balik ke elo."

Menohok sekali. Menyadarkan aku bahwa aku pernah mengatakan itu padanya. Sejujurnya aku masih menyimpan sejuta rasa istimewa ini padanya.

"Mel tapi.."
"Ra, itu sepasang kaca. Seperti yang elo bilang saat gue tanya alasan lo kasih itu ke gue. Kita masing-masing pegang satu kaca. Jika salah satu berbuat kesalahan, maka berkaca pada kaca yang lain untuk mengetahui titik kesalahan. Setelah itu berkaca pada kaca milik sendiri untuk memperbaiki kesalahan. Dengan begitu salah satu kaca yang kotor akan bersih, sama bersihnya dengan kaca pasangannya. Mungkin ga banyak orang yang paham makna ini. Tapi gue paham. Gue wanita emang pake hati Ra. Tapi, logika gue masih jalan."

Entah kenapa aku justru yang melupakan filosofi sepasang kaca itu. Saling berkaca satu sama lain. Aku tak pernah memberinya kesempatan menjelaskan yang sebenarnya. Aku pergi secara sepihak.

"Gue minta maaf Mel.. Gue mau.."
"Ra, rasanya keputusan elo buat mutusin gue itu bener. Thanks ya dua tahun berharganya. Elo pria istimewa buat gue selama ini."
"Mel.."
"Oh iya, Ra.."
"Elo ga ngasih kesempatan gue ngomong, Mel. Dengerin gue dulu."
"Memang selama ini lo mau dengerin gue? Adil kan Ra? Sorry."
"Mel maaf. Iya gue salah. Tapi.."
"Gue mau negesin ke elo. Kalau sesuatu yang disikapi dengan emosi bukan akan menyelesaikan masalah. Tapi justru semakin mengacaukan."
"Mel gue tau.."
"Rahma bilang gue wanita murahan. Yang mau kenal dengan pria-pria dunia maya. Rahma nunjukin ke elo foto gue bareng pria lain kan? Yang foto itu gue pake dress coklat. Lalu foto dengan pria yang berbeda di lobby Casablanca Resort. Lalu, Rahma menambahi omongan-omongan pedasnya ke elo. Elo percaya, Ra."

Hening.

"Pertama sebelum gue kerja di kantor itu, gue kerja di Lembaga Sosial, yang gue temuin itu temennya Rahma, donatur besar Lembaga Sosial tempat gue kerja. Gue akuntan. Lo pasti tau. Kedua, dia itu anak dari kakak papa yang tinggal di Aceh. Kebetulan ada acara gathering dan gue dampingin dia, nemenin dia. Setau gue Rahma naksir sepupu gue itu, dan nuduh gue ngerebut gebetannya. Rahma itu dulu deket sama gue. Bisa dibilang akrab karena satu divisi. Banyak hal yang elo ga tau karena gue rasa cerita macam ini ke elo ga ada gunanya. Kalo lo sayang sama gue, elo tanya dulu ke gue kronologisnya dan siapa mereka. Tapi, sayangnya omongan Rahma lebih nusuk ke hati lo."

"Mel, maafin gue. Gue sayang sama lo."

Hening.

"Gue maafin lo, Ra. Karena ga sepenuhnya lo salah. Gue juga ga cerita ke elo. Tapi kalo kita lanjut gue ga bisa, Ra. Kita cukup jadi temen. Sorry, gue ga mau nambah beban malu di hidup lo."

Aku menyesal. Cuma itu.

"Gue mau lo bahagia, Ra. Lo bakal nemuin wanita suci sesuai harapan lo itu. Yang dia bisa jadi penghapus tinta hitam. Lo bakalan nemuin sepasang kaca yang sama beningnya."

-Sepasang kaca tak pernah menjadi satu, saat salah satunya kotor terbengkalai dan mencari kaca baru yang lebih bersih.-

Aku meninggalkan Ara yang masih terdiam saat aku pergi. Dia baru menyadari bahwa percaya ucapan orang lain tanpa mengetahui kebenarannya akan berbuah menyakitkan.
Ku doakan kau yang sudah mengobrak-abrik hidupku.
Kelak Tuhan akan memberikanmu pelajaran berharga, dan kau dapat berkaca darinya.

Setelah ini ku harap kau belajar dari kesalahan.
Ara, untukmu doaku kau bahagia :)

Komentar