Bagian Puzzle yang Hilang

"Kau takkan pernah tahu rasanya sakit, sampai orang yang kau cintai melakukannya padamu."

"Lo yakin mantepin hati lo buat dia? Lo kan belom pernah ketemu Grace."
"Gue yakin Ra. Dia itu baik banget, mana lucu lagi. Keren juga."
"Tapi dia itu kan bayangan doang. Apaan sih lo!"
"Bilang aja lo ngiri kan."

Seharusnya aku tak berharap untuk apapun yang sudah kau berikan. Sejauh ini dugaan-dugaanku tak pernah salah. Tapi, kali ini kau yang membelokkannya.

Cuaca pagi ini sangat terik, hampir membuat orang yang berada dalam dekapan sinarnya merasa terlalu panas dan ingin segera berlalu meninggalkannya. Aku yang tengah mix and match dress polkadot ungu ini saja sampai seperti cacing kepanasan saking gerahnya. "Duh, udah mandi padahal. Panas banget!". Bisa apa lagi? Panas sudah tak mau diajak untuk kompromi. Seharian yang lalu memang hujan mau berkunjung, tapi matahari terburu-buru mengusirnya pergi.

Ku tatap layar handphone, masih saja kosong. Biasanya pagi-pagi kau sudah menghubungiku. Mengucapkan selamat pagi.

"Hei, ini di kampus Grace. Bengong aja sih. Nungguin dia?"
"Iya nih. Biasanya ngabarin gue. Tumben. Kuota abis kali, atau lagi di charger yaa.."
"Hahaha. Ngayal lo. Dia itu cuma bayangan lo aja Grace. Mana bisa nyata? Hellow, mikir. Iya sama lo ngaku single. Nah, kalo ude ade pacar gimane? Mampus lo."
"Clara! Lo apaan sih, ga pernah bisa liat gue seneng dikit. Dia nyata!"
"Ya kali bukan foto dia asli."
"Foto dia asli!"
"Ya kali aja gitu dia cuma ngisengin lo."
"Apaan sih Ra."
"Yang nyata ajalah Grace, tuh kaya si Reyhan atau Bagas gitu. Nyata ngejar dan naksir sama lo."

Seharusnya aku mendengarkan itu, Seharusnya aku tak pernah membiarkan perasaanku menjalar dengan cepat. Dia hanya bayangan ku. Insan yang tak kan pernah ku temui nyatanya. Tapi bukan salah ku sepenuhnya. Aku hancur. Jika boleh waktu ku putar, maka aku akan melewati bagian sejarah hidup ku yang satu ini.

 "Puzzle kehidupan sejatinya lengkap. Hanya saja manusia membuatnya berantakan, tak sejajar dan bahkan hilang!"

Tuhan, please! Hentikan aliran yang sedari tadi membuat genangan di mataku. Hilangkan sakit yang seharusnya tak ku rasakan. Bantu aku menghadapi kenyataan bahwa dia hanya sekedar bayangan. Bayangan yang takkan pernah bisa ku raih nyatanya.

Masih ku ingat jelas deretan kata yang tertulis ditujukan untukku. Iya untuk aku. Sangat menyakitkan sekali menerima segala yang terjadi. Entah kenyataannya begitu atau kau yang memang sengaja mempermainkan aku.

"Berkali-kali gue bilang sama lo Grace. Segala yang ada di dunia maya tak sepenuhnya kau raih jadi nyata. Berhenti bermimpi dan temui orang-orang yang nyata di hadapanmu!"

Clara benar. Adanya begitu. Tapi hatiku belum sepenuhnya mau menerima. Aku tak mau dia pergi. Walau dia tak bersamaku setidaknya ada penjelasan. Aku ingin dia kembali.


"Tuhan tak mengingkari janji-Nya. Kau ingat bukan? Segala yang memang ditakdirkan untukmu dia akan pulang padamu. Jika tidak, cukup pahami dia milik orang lain."

"Gue kangen lo Grace. Maaf untuk semua yang terjadi. Gue tau lo berhak marah dan kecewa."


*Flashback On*

Malam itu seperti biasanya. Tempat tidur merupakan lokasi paling istimewa untuk dikunjungi. Mataku bergerak mencari sesuatu yang sejak tadi pagi membuat ku kacau. Notif dari SmartPhone ini begitu ramai. Memastikan bila memang ada sesuatu yang penting.

Abigael Dirgantara. Send your friend request.

"Abigael Dirgantara? 24 tahun. PT. Angkasa Jaya. Hobi Traveling. Padang. Manis banget, keliatan smart dan bijak. Oke, jelas. Accept."

Ku tekan tombol accept. Dan taraa.. Otomatis dia sudah sah jadi kawan dunia maya ku. Aku memang bukan wanita yang sembarangan mengenal seseorang. Pilih-pilih dalam arti yang sangat jelas. Tak mau berkawan dengan yang abal-abal, dan perlu diketahui media sosial merupakan tempat ke dua bagi penjahat melakukan aksinya. Ya, aku sangat berhati-hati.

"Hai Grace. Gue Dirga. Salam kenal ya.."

Dia yang memulai perkenalan ini. Dia di awal perkenalan yang menghipnotis seluruh nyawaku.
Aneh memang, ini dunia maya. Tapi tak sedikit manusia terjangkit perasaan merah jambu karenanya.

"Hai juga Dir, salam kenal balik.."

Semua juga paham apa yang selanjutnya terjadi. Perkenalan kecil yang biasa dilakukan orang-orang pada umumnya. Ada sinyal yang ku tangkap dari pribadinya. Dia berbeda. Dia berbeda dengan pria maya yang lainnya.

Hari-hari berlalu, sampai pada hal yang menjadi alasan ku tersenyum setiap hari. Membuatku bersemangat. Membuatku lupa rasanya patah hati. Membuatku menepiskan perasaan masa lalu yang masih hinggap di memori.

"Lo sendiri kan Grace?"
"Iya Dir. Kenapa?"
"Gue nyaman sama lo. Gue pengen ketemu lo. Ngejalani semua bareng lo."
"Tapi gue penuh kekurangan Dir."
"Apa salah gue jadi seseorang yang nutupin segala kurangnya diri lo?"
"Iya Dir. Maaf. Gue ga mau lo nyesel setelah ketemu gue."
"Percaya gue Grace."

"Jelaskan tentang hal yang tak pernah ingin ku temui kebenarannya. Jelaskan bahwa perasaan ku layak kau perjuangkan!"

Sampai saat itu memang ku mantapkan perasaanku untuknya. Terserah mereka mengatai ku gila karena semua itu maya. Ya, dunia maya. Tapi aku mengharapkannya. Dia berbeda. Perlu ku tegaskan berapa kali dia berbeda. Entah ini bodoh atau memang benar.


"Jangan lo ganggu lagi cowo gue Grace. Dirga cowo gue. Dan gue harap lo paham. Silahkan cari cowo lain Grace. Thanks."

Deg. Jantungku hampir berhenti berdetak. Nafasku hampir menghilang bersamaan sepasang mataku menemui beberapa kalimat yang menyesakkan dada. Perlahan sudut mataku mulai berair. Menggenang. Dan akhirnya meluber membasahi kedua pipi ku.
Ini kenyataan yang gila. Mulai ku ketikkan beberapa kata untuk meminta penjelasan. -Klik- Delete Contact.
Belum sempat ku send apa yang ku tulis dengan cepat dia sudah tak menjadi list di contact ku lagi. Wanita itu yang menghapusnya.

Sedetik kemudian aku kehilangannya. Aku kehilangan puzzle hidupku.

*Flashback Off*


"Ada kesalahpahaman yang harus gue jelasin ke elo Grace. Percaya gue."
"Mungkin memang itu nyata Dir. Dan seharusnya penjelasan itu gue denger sejak awal."
"Setelah lo pergi gue kehilangan lo. Tapi bukan berarti gue nyerah. Gue selalu usaha nemuin akun lo. Nihil. Sampai akhirnya hari ini ketemu. Jujur Grace gue ga tau ini bisa terjadi."
"Jelasin Dir. Siapa dia?"
"Dia masa lalu gue yang ngebuat gue berantakan. Yang ga seharusnya nyalahin elo saat itu. Dia masih sayang sama gue. Maksa gue tetep bareng dia. Tapi gue sayang elo Grace. Percaya gue."
"Apapun alasannya dia ga berhak kaya gitu ke gue Dir."
"Maafin gue Grace. Tapi gue uda berakhir sama dia. Gue pastiin ga ke ulang lagi. Percaya gue ya Grace."

Entah aku harus berbuat apa. Percaya atau tidak. Menerima atau melupakannya. Tapi, hati dengan cepat mengatakan bahwa aku harus percaya, meski logika masih menerka segalanya.

"Iya Dirga. Gue percaya elo."

"Puzzle yang memang ditakdirkan Tuhan kembali, ia akan kembali. Sedangkan puzzle yang memang ditakdirkan hilang oleh Tuhan, bagaimanapun kau cari dia akan tetap hilang, tak pernah kau temukan keberadaannya."

Jika saja ego ku lebih besar, maka ku pastikan kau tak kan pernah dapat ku raih. Namun, hati menggiringnya menuju gawang yang benar. Kau kembali. Setelah ini ku harap kau tak kan pernah pergi lagi.

-Tuhan selalu punya cara-Nya tersendiri dalam menyatukan kedua hamba-Nya.-


Komentar

Posting Komentar