Untukmu Penggores Luka..
"Ketika janji, hanya sekedar janji.."
- Pertengkaran memang menjadi trending topik menakutkan bagi pasangan yang tengah dilanda asmara ataupun yang sudah lama mengarungi biduk rumah tangga. -
Hari itu, bukanlah hari yang ku harapkan sebenarnya. Setiap wanita mengharapkan hari-harinya bahagia dengan pria yang dipilihnya sebagai kekasih. Tentunya memilih dengan selektif atas dasar yang rasional.
Saat itu memang seharusnya tak pernah terjadi. Kamu menjanjikan aku jadwal di mana kita akan menghabiskan waktu bersama. Berdua pastinya. Aku sebagai wanita dapat kamu pastikan bagaimana perasaannya membuncah bahagia, ketika yang dikasihi meluangkan waktunya di sela-sela kesibukan yang padat. Kamu pasti mengerti sekali bahwa meluangkan waktu adalah hal yang membuat wanita menjadi prioritas di atas segalanya.
Kita sudah sepakat bahwa lusa akan menjadi hari yang pas untuk kita lewati bersama. Aku sudah membayangkan betapa indahnya hari itu.
"Maaf datang tak sesuai harapan."
Menghitung detik demi detik yang bisa ku lakukan. Akan tetapi, itu bukan moment yang pas untuk ku nikmati. Mendapatimu mengatakan bahwa kita tak dapat melakukannya esok hari. Dengan perasaan yang teramat kecewa, aku hanya bisa pasrah mendengarkan alasan yang menjadi penyebab utama liburan itu gagal total.
Maaf pertama kamu ucapkan padaku. Yah, ku anggap itu sebagai permintaan maaf atas alasan itu.
Tapi, bagaimana dengan aku? Perasaanku, hatiku, dan hari yang sudah sengaja ku kosongkan karena kamu?
Berfikirkah?
Mengertikah?
Jawabannya TIDAK!
Mengapa? Karena, esok harinya kamu berlaku seakan-akan tak pernah terjadi apa-apa. Ekspektasiku terlalu tinggi. Ku kira kamu akan meminta maaf yang kedua untuk kecewanya aku dan membuat ku merasa bahwa kamu bertanggung jawab atas apa yang menjadi janjimu.
"Ego memusnahkan perasaan yang terpupuk rapi."
Kamu egois!
Ya, begitulah kenyataan bahwa sebagian pria memiliki sifat egois dan keras kepala.
Kamu bahkan mengatakan kata yang tak ingin ku dengar.
"Yasudahlah kalau kamu memang marah!"
Hai boy, sulitkah kata maaf kau ucapkan meski harus berulang kali?
Haruskah aku menerima perlakuanmu yang seperti ini?
Biarlah para pria menertawaiku karena aku banyak maunya, tapi mengapa saat ku putar balik seandainya mereka di posisiku, justru mereka diam?
Ya, kecewa pastinya, karena kata maaf memang tak cukup untuk melunturkan rasa kecewa tanpa sikap nyata bahwa penyesalan memang ada.
Perasaan ku demikian, perlahan memudar dan dipenuhi dengan kecewa yang luar biasa.
Memang benar, untuk pengakuan bersalah dan sekedar mengucapkan kata maaf harus melalui gengsi yang meninggi.
"Mengalah karena lelah."
Akhirnya aku mengalah, membiarkanmu bersikap seolah kamu tak pernah melakukan kesalahan. Membiarkanmu merasa pria paling benar. Membiarkanmu dipenuhi persepsi tentangku yang demikian.
Aku mengalah, karena aku tahu kamu pada akhirnya akan mendewakan egomu itu.
-Tak semua orang mampu mengucap kata maaf, selain orang-orang yang memiliki dasar hati tulus dan keikhlasan hati seluas samudera.-
wah..aktif nulis lagi...sip2
BalasHapusHehe iya nih, terimakasih semangatnya 😄
BalasHapus